Yuyut
Mungkin
jika secara umur beliau lebih dari seratus tahun. Beliau adalah nenek dari
ibuku, entahlah mungkin aku dan anak-anakku termasuk cicit yang kesekian. Keadaan
beliau semakin hari makin lemah hingga akhirnya tidak mampu untuk melakukan
segala aktifitas sehari-hari hanya mampu duduk dan berbaring. Badan yang renta dan
rambut yang putih tidak menyurutkan semangat beribadah, mulutnya selalu komat
kamit berdzikir dengan tasbih di kedua tangannya.
Di
awal Ramadhan beliau sempat ingin berpuasa, tetapi aku tidak mengizinkan karena
berkaca pada tahun sebelumnya setelah dua hari berpuasa beliau pasti sakit.
Akhirnya aku sarankan beliau tidak usah berpuasa cukup membayar fidyah.
Yuyutku
selalu menanyakan waktu karena persiapan untuk melaksanakan sholat. Pernah
suatu hari aku baru pulang dari tempat kerja, banyak berkas pekerjaan aku bawa
pulang pikiranku penuh dengan berbagai jadwal kerja yang belum kelar di tambah suasana
hari yang cukup panas.
Sepeda
Supra X 2020 segera aku parkir di depan rumah lalu membuka helm , aku letakkan
tas ransel di kursi teras rumah dan ketika hendak membuka alas kaki tiba- tiba aku
dikagetkan sebuah teriakan dari arah rumah beliau “ Tolong...tolong...ada
maling...maling...” suaranya begitu nyaring dan parau
Aku
bergegas menuju rumah beliau yang letaknya hanya empat langkah dari rumah,
ternyata beliau dalam keadaan tidur dengan wajah ditutup selendang berwarna
kuning, aku sedikit menahan tawa melihat kelakuannya.
“
Yut...yut...bangun...bangun” suaraku pelan sambil aku pegang bahunya
Yuyut
mulai membuka mata lalu berkata“ Maling pegang pentungan, dia lari ke belakang
lemari”
Aku
tidak mampu menahan tawa “ Malingnya sudah keluar, sebaiknya yuyut minum dulu
supaya tenang” aku mencoba menenangkannya
Setelah
minum seteguk air dengan dada yang masih tersengal-sengal beliau menceritakan
si maling dalam mimpi , Aku hanya duduk santai mendengarkan dan membaca WA Grup
GRIYA LITERASI.












