This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, October 25, 2020

tulis

 Mengawali dunia tulis menulis mungkin bukan hobiku sejak kecil,jika menulis catatan pelajaran sudah menjadi makanan pokok setiap hari. Menulis sesuatu kegiatan yang ringan tetapi sulit dilaksanakan mungkin banyak penyebabnya bisa malas, enak rebahan atau di terpa kegiatan yang cukup menguras otak. Sesulit itukah untuk dapat menorehkan karya?

    Awal mula aku merasa takut untuk menulis dan bingung tulisan apa yang harus kutulis. Merasa tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, rasa takut tidak dibaca orang dan takut tulisan tidak berkwalitas menyapa setiap rasa inginku untuk menulis.

   Takdir Allah mempertemukanku dengan hamba pegiat literasi, ibu Dianna salah satu wanita yang penuh semangat menggerakkan Literasi khususnya bagi penulis pemula di Bondowoso. Hampir setiap hari  aku membaca dan menyimak tulisan teman -teman litera di WAG. Dengan mengumpulkan semangat aku beranikan jemariku menekan keybord merangkai kata menjadi kalimat dan kukirim ke group. Aku tepis rasa malu dan takut tidak dibaca orang yang penting tulis dan tulis.Ternyata menulis dengan tehnik SERINDAH lebih asik dan santai lebih mantab lagi ketika aku di pertemukan dengan orang malang melintang di dunia literasi beliau adalah Bapak Ali Harsojo dari kota Sumenep, Bahasanya yang santai dan lugas membuatku semakin terlena dan menulis menjadi suatu kebutuhan setiap hari.

Kota Tape 25102020

  
  


Tuesday, October 20, 2020

Pagi Eliz

Selamat  pagi Eliz
Selimut hangat surya
Obati seonggok jasad lelah
Runtuhkan makhluk jumawa

Kutitipkan separuh hidup
Pada ranjang hijau
Pada tirai putih
Pada selang infus
Belai dia dengan tulus
Rawat sedihnya dengan mulus

Esok ku ingin
Ia menyungging senyum
Tegak perkasa tanpa kesah
Tiap saat ku tanya kabarmu
Cemasku, gelisahku dan syukurku
Kupasrahkan padaNya

Pondok Eliza,21102020


Monday, October 12, 2020

Menyulam hidup pada biji

 



 

Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi

Kumandang adzan ingatkan hati

Sadarkan diri dari Mimpi

Jika aku jumpa pujaan hati

 

Pagiku tiba sambut siluit sinar surya

Bersama derap kaki bidadari penyambung bara

Menghalau gelap pagi buta

Terjang dingin menusuk ronggoa dada

 

Jejak langkah pada rumput teki namun pasti

Menyigi baris parit dengan biji

Merenda hidup tuai penuh isi

Mengarungi samudera desa dari padi

 

 

Singo ulung, 13102020

 

 

Saturday, October 3, 2020

Stasiun Riwayatmu

 


              


              Sambut Minggu  pagi dengan senyum ceria,guyuran hujan di Sabtu sore memberi aroma tanah yang sangat aku suka, kuncup bunga dan daun tampak lebih segar membawa berjuta warna.

Wisata sejarah menjadi program keluarga kami di Minggu ini, setelah selesai rutinitas pagi segeralah kami berangkat ke kota Bondowoso menempuh jarak Tujuh belas  Kilometer. Museum Stasiun kereta Api menjadi Tujuan utama. Bangunan bercat abu dan mempunyai arsitektur belanda kuno ini masih berdiri kokoh  di tengah kota. Keadaan yang masih pagi membawa suasana sunyi, hanya tampak satu unit gerbong kereta api parkir di tengah rel kereta, kursi-kursi yang memang tersedia di pinggir rel kereta untuk tempat duduk calon penumpang serta benda miniatur lokomotif masih tertata rapi di bagian ruangan stasiun.

Stasiun ini menjadi saksi bisu tragedi gerbong maut Bondowoso. Sebanyak seratus pejuang ditawan serdadu Belanda dalam rangkaian Agresi Mileter Belanda Satu Pada tanggal 23 November 1947 subuh itu, tawanan yang semula ditahan di Penjara Bondowoso digiring ke Stasiun Bondowoso untuk dinaikkan di kereta api menuju Surabaya. Tercatat ada tiga gerbong untuk mengangkut tawanan, yaitu GR 5769 dan GR 4416 yang masih memiliki lubang angin kecil, serta GR 10152 yang sama sekali tidak memiliki lubang angin.

Karena ukuran gerbong-gerbong itu kecil dan bahan dasar gerbong adalah seng berada tepat di bawah terik sinar matahari membuat keadaan  sangat panas dan pengap hal inlah yang menjadi awal dari tragedi Gerbong Maut. Mulai dari kesulitan bernapas hingga tidak diberi makan dan minum jelas membuat mereka tidak mampu bertahan hidup lama. Empat puluh enam orang tewas, Dua belas orang sakit parah, Tiga puluh orang lemas tidak berdaya dan Dua belas orang selamat.


        Untuk mengenang peristiwa tersebut maka dibangunlah
 monumen Gerbong kereta Api lengkap dengan miniatur Dua puluh  orang pejuang tepat di alun-alun kota Bondowoso.

    Perjalanan dilanjut  menuju Alun-alun Bondowoso untuk ikut Car Free day (CFD) tanpa mengindahkan kuliner yang memenuhi pinggiran alun-alun, aku langkahkan kaki mengelilingi alun-alun,namun dasar mata ini tidak dapat menahan godaan beberapa kali kulirik penjual bunga hias,tertahanlah langkahku hingga pinanganpun jatuh pada tanaman keladi batik. Dengan percaya diri sambil membawa bungkusan bunga aku teruskan langkahku hingga tiga kali putaran. cukuplah bakar kalori ditemani keladi batik cantik.


Kota tape, 04102020