Mengenalnya saja bagiku
tidak mungkin karena intensitas bertemu jarang dan beliau sosok ibu yang
pendiam, hanya orang tertentu saja yang kenal. Akupun tidak asing dengan wajah
dan stylenya karena setiap ada moment penting di Kantor beliau selalu
ada....ahh...mana mungkin aku kenal dengan ibu ini pikirku.
Pada pertengahan Tahun
2018 beberapa ASN di lingkungan Kementerian Kabupaten Bondowso mengikuti Diklat
Pelatihan penilaian selama enam hari. Berjumpa lagi dengan beliau mungkin
takdir, hari pertama aku duduk dibelakangnya tanpa menoleh ke arahku dan hanya
bertukar cerita dengan teman disampingnya, Baterai Laptopku mulai
menipis,kebetulan stopkontak berada didepannya dengan sedikit percaya diri aku membuka
percakapan “ bun minta tolong ambilkan stopkontak!” pintaku, dengan sikap
dinginnya ia menyerahkan stop kontak padaku, “kayaknya ibu pendiam dan pilih-pilih
dalam berteman mungkin apa Jaim (bahasa
anak sekarang)?” gerutu dalam hatiku.
Hari kedua dibentuklah
beberapa kelompok kebetulan aku satu kelompok dengan ibu berbaju ungu yang
sedari awal hanya sedikit bicara, akupun belum tahu nama teman-teman dalam
kelompokku, tugas kelompokpun selesai
dengan menyantumkan nama anggota kelompok ,disitulah baru kutahu nama beliau
adalah Dianna Ummijathie, teman-teman biasa memanggilnya bak din.
Lima hari terlewati
dengan suasan Diklat beliau tetap dengan sikapnya yang dingin sedingin sapuan
angin digurun pasir, saat Ishoma di Musholla beliau jarang bersama karena
melaksanakan Ishoma di rumah kerabat yang dekat dengan kantor. Kegiatan
Evaluasipun tiba dengan menggunakan aplikasi di gadget peserta langsung dapat
mengerjakan dan mengirim hasil evaluasi saat itulah suasana sedikit hiruk pikuk
saling bertanya kira-kira hasilnya berapa, kamipun saling support satu sama
lain termasuk bak din. Kebetulan aku berangkat dan pulang mengikuti diklat
bersama beberapa teman mengendarai mobil, ditengah perjalan kami pulang sore hari pukul 17.30, bak din telpon ke
seorang teman” re sudah pulang ta?” suara dari sebrang kudengar “ sudah hampir
sampai rumah bak, ada apa?” tanya temanku penasaran sedikit penasaran “ tidak
apa-apa jika masih dikantor,saya ingin gabung kerja kelompok!” suara bak din
penuh harap, “maaf ya bak, alhamdulillah tugas selesai semua” temanku
membalasnya.
Hari terakhirpun tiba
semua kegiatan terlaksana sesuai jadwal dan hanya menunggu sertifikat dari Kanwil.
Sudah menjadi tradisi kekinian selesai acara penutupan kami melakukan foto
bersama-sama dengan gaya masing-masing. Ditengah gelak tawa anggota diklat bak
din menyapa rombonganku “ setelah diklat ini kemana?” tanya bak din disertai
senyum manisnya “ ah, tidak keman-mana bak, langsung pulang” sahut bu riski
teman satu rombongan “ ayo! Mampir ke rumahku, dekat koq daerah nangkaan”
beliau mengajak kami penuh dengan sapaan hangat, akhirnya kami menuju rumah
beliau, setelah sampai dirumah beliau kami dipersilahkan duduk diruang tamu
berukuran 3 x 4 m2 tergantung bebrapa lukisan dan foto keluarga bak din, senda
gurau kami mengalir dengan hangat ditemani satu toples rengginang dan suguhan
kopi hangat memberi semangat silaturrohmi
yang kuat diantara kami semua. Disini baru aku tahu bahwa bak din tidak
sesinis yang aku sangka ( maaf bak din).
Jalinan silaturrohmipun
terus berlanjut setelah bak din berkunjung kerumahku di Desa Blimbing Kecamatan
Klabang, bertepatan dengan ada acara Kadhisa sebuah acara rutin untuk selamatan
desa kemudian bersama teman-teman Diklat lainnya kami terus ke tempat wisata
Beto so’on (STONEHENGE) di Kecamatan
Cermee, canda dan tawapun menghiasi perjalanan kami. Seorang Dianna Ummijhatie
bisa juga berkelekar dan bercanda dengan kami yang usianya jauh lebih muda
darinya. Tidak sampai disitu ” Uti din ” begitu sapaan akrab kami padanya,
berkunjung ke rumah teman-teman lainnya tanpa menolak suguhan yang dihidangkan
walaupun perut penuh dengan berbagai macam makanan. Sungguh aku terlalu
syu’udzon menyangka orang yang sebaik beliau.
Suatu pengalaman yang
sangat berkesan semenjak kenal dengan Uti din saat beliau mengajakku ikut
kegiatan Satu guru Satu Buku (SAGUSABU) program yang melatih guru untuk berani
menulis. Awalnya aku sempat ragu, jika aku ikut SAGUSABU kira-kira tulisan apa
yang hendak aku tulis, tetapi berkat motivasi beliau “menulis, menulis, menulis
jangan hiraukan delete dan backspace” yang selalu terngiang ditelinga, mulailah
jemari dan otakku membuat konektifitas yang tertuang dalam tulisan sederhana.
Kegiatan menulis membuatku sedikit ketagihan untuk menulis setiap hari dan
kutayangkan di GURU SIANA dan MEDIA GURU INDONESIA. Hingga aku sempatkan
menulis goresan tentang pribadinya yang begitu antusias untuk menggerakkan
gerakan literasi khususnya bagi guru di Bondowoso.
Bondowoso,20082020