Hampir enam bulan kebijakan proses kegiatan belajar mengajar tetap menggunakan sistem Daring (online) karena melihat beberapa daerah masih zona merah. Banyak sekali problematika yang dialami proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini, sehingga bisa menimbulkan konsekuensi yang luas. Belajar secara daring mensyaratkan sarana dan prasarana yang memadai, baik bagi para guru maupun murid, namun kenyataannya tidak semua siswa memiliki akses yang memadai.
Banyak warga masyarakat
khususnya warga kurang mampu mengalami kesulitan menyediakan sarana dan
prasarana tersebut bagi anak-anak mereka. Sebutlah si Siti salah satu siswa
Menengah pertama disalah satu SMP, semenjak proses belajar menggunakan daring
dia harus mengumpulkan tugas secara online, yang semua itu membutuhkan biaya untuk
membeli paket data. Ibu Siti hanya seorang buruh pabrik di salah satu PT,
sedangkan ayah siti yang kini menderita sakit vertigo dan sedikit sulit
berjalan karena pernah kecelakaan di tempat kerja hanya berjualan makanan kecil
di warung terbuat dari anyaman bambu berukuran 2 x 1 M2 demi menyambung kebutuhan hidup.
Karena merasa kurang
mampu untuk membeli paket data yang
hampir tiap minggu harus terisi, Akhirnya ada salah satu tetangga yang masih
mempunyai perhatian dengan kondisi Siti, diajaklah Siti menyelesaikan tugas online dirumahnya karena
di rumah beliau tersedia jaringan wifi. Selain keterbatasan untuk membeli paket
data, Siti juga tidak dapat mengakses aplikasi Google Classroom karena
gadget yang ia miliki hanya memiliki kapasitas 1 RAM sedangkan googleclassroom
minimal membutuhkan kapasitas 2 RAM, begitupun tugas di aplikasi Whatshap tidak
dapat mengirim file karena ruang penyimpanan penuh. Suatu yang mustahil untuk
saat ini bagi seorang Siti membeli Handphone yang mempunyai kapasitas minimal 2
RAM dengan harga diatas satu juta. Keadaan yang dilematis dan membutuhkan
solusi agar proses belajar mengajar tidak terkendala.








0 comments:
Post a Comment