Saturday, October 3, 2020

Stasiun Riwayatmu

 


              


              Sambut Minggu  pagi dengan senyum ceria,guyuran hujan di Sabtu sore memberi aroma tanah yang sangat aku suka, kuncup bunga dan daun tampak lebih segar membawa berjuta warna.

Wisata sejarah menjadi program keluarga kami di Minggu ini, setelah selesai rutinitas pagi segeralah kami berangkat ke kota Bondowoso menempuh jarak Tujuh belas  Kilometer. Museum Stasiun kereta Api menjadi Tujuan utama. Bangunan bercat abu dan mempunyai arsitektur belanda kuno ini masih berdiri kokoh  di tengah kota. Keadaan yang masih pagi membawa suasana sunyi, hanya tampak satu unit gerbong kereta api parkir di tengah rel kereta, kursi-kursi yang memang tersedia di pinggir rel kereta untuk tempat duduk calon penumpang serta benda miniatur lokomotif masih tertata rapi di bagian ruangan stasiun.

Stasiun ini menjadi saksi bisu tragedi gerbong maut Bondowoso. Sebanyak seratus pejuang ditawan serdadu Belanda dalam rangkaian Agresi Mileter Belanda Satu Pada tanggal 23 November 1947 subuh itu, tawanan yang semula ditahan di Penjara Bondowoso digiring ke Stasiun Bondowoso untuk dinaikkan di kereta api menuju Surabaya. Tercatat ada tiga gerbong untuk mengangkut tawanan, yaitu GR 5769 dan GR 4416 yang masih memiliki lubang angin kecil, serta GR 10152 yang sama sekali tidak memiliki lubang angin.

Karena ukuran gerbong-gerbong itu kecil dan bahan dasar gerbong adalah seng berada tepat di bawah terik sinar matahari membuat keadaan  sangat panas dan pengap hal inlah yang menjadi awal dari tragedi Gerbong Maut. Mulai dari kesulitan bernapas hingga tidak diberi makan dan minum jelas membuat mereka tidak mampu bertahan hidup lama. Empat puluh enam orang tewas, Dua belas orang sakit parah, Tiga puluh orang lemas tidak berdaya dan Dua belas orang selamat.


        Untuk mengenang peristiwa tersebut maka dibangunlah
 monumen Gerbong kereta Api lengkap dengan miniatur Dua puluh  orang pejuang tepat di alun-alun kota Bondowoso.

    Perjalanan dilanjut  menuju Alun-alun Bondowoso untuk ikut Car Free day (CFD) tanpa mengindahkan kuliner yang memenuhi pinggiran alun-alun, aku langkahkan kaki mengelilingi alun-alun,namun dasar mata ini tidak dapat menahan godaan beberapa kali kulirik penjual bunga hias,tertahanlah langkahku hingga pinanganpun jatuh pada tanaman keladi batik. Dengan percaya diri sambil membawa bungkusan bunga aku teruskan langkahku hingga tiga kali putaran. cukuplah bakar kalori ditemani keladi batik cantik.


Kota tape, 04102020




0 comments:

Post a Comment