This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, October 12, 2020

Menyulam hidup pada biji

 



 

Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi

Kumandang adzan ingatkan hati

Sadarkan diri dari Mimpi

Jika aku jumpa pujaan hati

 

Pagiku tiba sambut siluit sinar surya

Bersama derap kaki bidadari penyambung bara

Menghalau gelap pagi buta

Terjang dingin menusuk ronggoa dada

 

Jejak langkah pada rumput teki namun pasti

Menyigi baris parit dengan biji

Merenda hidup tuai penuh isi

Mengarungi samudera desa dari padi

 

 

Singo ulung, 13102020

 

 

Saturday, October 3, 2020

Stasiun Riwayatmu

 


              


              Sambut Minggu  pagi dengan senyum ceria,guyuran hujan di Sabtu sore memberi aroma tanah yang sangat aku suka, kuncup bunga dan daun tampak lebih segar membawa berjuta warna.

Wisata sejarah menjadi program keluarga kami di Minggu ini, setelah selesai rutinitas pagi segeralah kami berangkat ke kota Bondowoso menempuh jarak Tujuh belas  Kilometer. Museum Stasiun kereta Api menjadi Tujuan utama. Bangunan bercat abu dan mempunyai arsitektur belanda kuno ini masih berdiri kokoh  di tengah kota. Keadaan yang masih pagi membawa suasana sunyi, hanya tampak satu unit gerbong kereta api parkir di tengah rel kereta, kursi-kursi yang memang tersedia di pinggir rel kereta untuk tempat duduk calon penumpang serta benda miniatur lokomotif masih tertata rapi di bagian ruangan stasiun.

Stasiun ini menjadi saksi bisu tragedi gerbong maut Bondowoso. Sebanyak seratus pejuang ditawan serdadu Belanda dalam rangkaian Agresi Mileter Belanda Satu Pada tanggal 23 November 1947 subuh itu, tawanan yang semula ditahan di Penjara Bondowoso digiring ke Stasiun Bondowoso untuk dinaikkan di kereta api menuju Surabaya. Tercatat ada tiga gerbong untuk mengangkut tawanan, yaitu GR 5769 dan GR 4416 yang masih memiliki lubang angin kecil, serta GR 10152 yang sama sekali tidak memiliki lubang angin.

Karena ukuran gerbong-gerbong itu kecil dan bahan dasar gerbong adalah seng berada tepat di bawah terik sinar matahari membuat keadaan  sangat panas dan pengap hal inlah yang menjadi awal dari tragedi Gerbong Maut. Mulai dari kesulitan bernapas hingga tidak diberi makan dan minum jelas membuat mereka tidak mampu bertahan hidup lama. Empat puluh enam orang tewas, Dua belas orang sakit parah, Tiga puluh orang lemas tidak berdaya dan Dua belas orang selamat.


        Untuk mengenang peristiwa tersebut maka dibangunlah
 monumen Gerbong kereta Api lengkap dengan miniatur Dua puluh  orang pejuang tepat di alun-alun kota Bondowoso.

    Perjalanan dilanjut  menuju Alun-alun Bondowoso untuk ikut Car Free day (CFD) tanpa mengindahkan kuliner yang memenuhi pinggiran alun-alun, aku langkahkan kaki mengelilingi alun-alun,namun dasar mata ini tidak dapat menahan godaan beberapa kali kulirik penjual bunga hias,tertahanlah langkahku hingga pinanganpun jatuh pada tanaman keladi batik. Dengan percaya diri sambil membawa bungkusan bunga aku teruskan langkahku hingga tiga kali putaran. cukuplah bakar kalori ditemani keladi batik cantik.


Kota tape, 04102020




Friday, September 18, 2020

Mr Aji

 



Entah virus apa yang menimpa akhir-akhir ini selalu haus dengan yang ter up to date tentang literasi,  mungkinkah bakteri literasi mulai merasuki urat nadiku ?

Mengenal  Mr aji begitu sapaan akrabku pada laki-laki asli kota jember tersebut selalu membuat suasana menjadi hidup dan rame, tapi bukan Cuma rame-rame beliau selalu memberi ide dan ilmu baru bagi  kami.

Mr aji Prasetyo bukan orang asing lagi bagiku kurang lebih  tiga belas tahun menjadi pendidik pada yayasan yang sama. Sikapnya yang lugas dan familiar membuatnya lebih akrab dengan siapapun yang baru ia kenal.


Begitupun di group IGMPL Bondowoso Mr aji salah satu orang teraktif menulis, hampir disetiap pagi sambil minum kopi selalu ku sempatkan membuka blog Harianajengonline. Pernah suata hari Mr tidak jalan-jalan di group literasi, biasanya sebelum jam tujuh blog nya seliweran di beberapa grup, hari itu aneh bagiku karena tidak sepertia biasa, ternyata betul dugaanku Mr aji sakit perut.

Kemarin malam kira-kira pukul 21.10 WIB beliau memberitahu melalui via WA jika sebentar lagi akan telpon melalui seluler, ternyata betul beliau telpon dengan vokal suara cukup lumayan hampir sama presenter kenamaan, Mr aji tanya jawab tentang literasi yang  Aku pelajari saat ini.

Pagi baru mengerti jika sambungan seluler tadi malam digunakan untuk PODCAST. Dengan sedikit penasaran aku buka gawaiku sekedar mencari aplikasi Podcast,  Merasa kurang paham langsung kutelpon Mr aji dengan suara hasnya yang riang beliau memberi petunjuk dan langkah membuat podcast sedikitpun tidak terbesit kalimatnya menggurui. Trimakasih banyak Mr! Semoga menjadi pundi-pundi amal ibadah.


Salam Literasi

Temani Sunyiku

 






Anugerah terindah dalam hidup tiba

Hadir membalut luka  penuh duka

Tangis pertama getarkan jiwa hampa

Obati   lara hati tersemayam  lama

 

Gemparkan  detak jantung penuh tahmid  

Selamat datang dekap buaian

Emban Amanah dua bahu

Limpah kasih sayang panjang hayat

 

Kian sejuk menyelami dua bola mata

Bayang pelangi macam warna

Beda langkah irama penuh harmoni

Dua putri laksa bidadari surga

Perhiasan  dunia pelipur lelah

 

Perlahan kulukis pada kertas putih

Dengan torehan tinta kebajikan

Meninggalkan  rekam jejak bermakna

Menjadi bekal hidup dunia dan akhirat


Bondowoso,19092020

 

Monday, September 14, 2020

Di kala Senja Tiba




Tatap  sayu indah matamu
Tersirat seribu harap
Sendi kuat baja
Kini lemah tak berdaya
Otak tangkas cerdas
Kini lunglai tidak berbekas
Kulit putih kencang
Kini  keriput lembut
Gerai rambut hitam legam 
Kini tergerai penuh putih
Tegas lugas berucap
Kini lirih penuh rintih


Memberi rasa yang penuh arti
Berbincang mendengar kisah
Masa muda penuh suka duka
Memberi tawa bahagia
Menyungging Senyum lepas di ujung bibir

Kadang egomu menguji sabar
Mengelus dada membaca istigfar
Belajar pada senja penebar sinar
Semoga ikhlas selalu tergambar

Sayang penuh terawat
Selalu beri pelukan hangat
Di tiap hembusan nafas
Memberi secercah manfaat

Bisik lantun doamu
Selalu ku dengar
Disetiap simpuh dan sujud
Sisipkan namaku
Hidup bahagia dunia akhirat
Betapa pilu dan malu
Usia senja pantang  surut
Panjatan doa bagi orang terkasih


"Menemani yuyut"

Kota Tape, 19092020





Kau duakan Aku

 


Mendampingi mereka adalah tugas dan keajiban kami selaku orang tua, dari sejak kecil hingga tumbuh menjadi anak remaja dan dewasa. Dikarunia dua bidadari kecil sebuah anugerah terindah dan pantaslah jika aku ucapkan alhamdulillah. Sebuah amanah besar untuk mendidiknya dan membersamainya dalam segala hal agar menjadi manusia yang berguna dimuka bumi.

Suatu saat ayah dapat tugas tambahan dari dinas terkait  secara tidak langsung menyita waktu dan perhatiannya pada dua bidadari kecilku, Hampir setiap malam ayah asik bercengkrama dengan mengayun jemarinya di atas  keyboard sesekali mengusap layar kaca gawainya dan mengangkat dering telpon yang berbunyi lebih inten “entah apa yang ia kerjakan,sepertinya mengajak otaknya bekerja keras” gumamku dalam hati.

Jam menunjukkan pukul 21.25 WIB suasana malam sepi hanya bunyi sepeda yang berlalu lalang di jalan raya depan rumah. Menjadi jadwal dan moment tersendiri  bagi ayah menemani hanun tidur diselingi cerita terbumbui gurauan ringan hinngga kadang-kadang terdengar suara tertawa keras antara mereka. Kring...kring bunyi gawainya berbunyi dengan sigap ayah mengambil dan sedikit menjauh dari tempat tidur.

Setelah beberapa saat ayah kembali sambil mengambil jaket warna hijau  yang tergantung di belakang pintu seraya berkata “ malam ini ayah harus rapat di rumah pak bowo,sementara untuk malam ini adik tidur dengan ibu!”

“ ayah sibuk terus, pegang laptop tiap malam,pulang kerja sore,adik tidak sayang ayah!” sergah hanun dengan menahan deraian air mata yang tidak bisa ia tutupi sambil menutup wajahnya dengan bantal

“adik sudah kelas tiga SD tidak boleh cengeng dan manja” aku mencoba menenangkan gejolak amarah hanun sambil ku peluk dari belakang punggungnya.

“pokoknya adik tidak sayang ayah, ayah jahaat!” kata-katanya menegaskan amarah yang memuncak.

Tanpa menghiraukan hanun yang ngomel sambil menangis Ayah pun bergegas mengambil sepeda yang terpakir di garasi dan lekas menuju rumah pak bowo.

Dua putriku mempunyai kedekatan tersendiri dengan ayah, semua yang menjadi kebutuhan sekunder dan tersier bak proposal yang selalu di ACC tanpa coretan revisi sedikitpun oleh ayah ,rayuan mereka berdua sering meluluhkan perasaan ayah ketika mereka mengeluarkan jurus dahsyatnya, mendekati ayah sambil bermanja dengan serta merta diutarakan semua keluh kesahnya.

Saat kami pergi ke swalayan hanya membeli kebutuhan dapur tiap bulan dua putriku tidak lepas dari gandengan ayah sambil memasukkan berbagai macam snack makanan tanpa ada sotiran. Berbanding terbalik Ketika bersamaku pasti aku nasehati” ambillah barang yang diperlukan saja!” merekapun berfikr dua kali untuk membelinya.

  Kadanga aku sendiri dibuatnya cemburu melihat kedekatan mereka, timbul tanya dalam hatiku “ apa aku terlalu over protective atau aku terlalu bersikap disiplin?” hingga mereka berdua lebih dekat dengan ayah.



 

Bondowoso,15092020

 

Friday, September 11, 2020

Cinta tak bertuan

 

Hadir mengalir dengan senyap

Membawa aroma indah memesona

Akal rasa memperbudak otak

Hingga bertanya pada diri sendiri

Apa yang terjadi padaku

 

Andai kau tahu gemuruh jiwa

Degup jantungku begitu dahsyat

Kembang kempis dadaku

Menahan gejolak rasa

Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit

Mungkinkah kau  disana merasa yang sama

Seperti dinginku di malam ini

 

Mencoba bertahan di tengah ke semuan

Walau tersiksa melawan  kenyataan

Kebisuan membungkam lisan tuk berucap

Hanya Binar mata wakili rasa yang tertahan

Sesungguhnya jiwa menangis membelah langit

Memecah laut biru membawa gelisah

 

Bisikan doa dalam butiran tasbih

Kusandarkan baik dan burukku padaMu

Pasrahkan padamu wahai pemangku cinta

Garis  tanganku tergambar

Tidak bisa aku menentang

Trimakasih telah menganugerahkan rasa cinta

Biarlah rasa ini menjadi kenangan terindahku



Salam literasi

Bondowoso, 11092020