Mendampingi mereka adalah tugas dan keajiban kami selaku
orang tua, dari sejak kecil hingga tumbuh menjadi anak remaja dan dewasa.
Dikarunia dua bidadari kecil sebuah anugerah terindah dan pantaslah jika aku
ucapkan alhamdulillah. Sebuah amanah besar untuk mendidiknya dan membersamainya
dalam segala hal agar menjadi manusia yang berguna dimuka bumi.
Suatu
saat ayah dapat tugas tambahan dari dinas terkait secara tidak langsung menyita waktu dan
perhatiannya pada dua bidadari kecilku, Hampir setiap malam ayah asik
bercengkrama dengan mengayun jemarinya di atas keyboard sesekali mengusap layar kaca gawainya
dan mengangkat dering telpon yang berbunyi lebih inten “entah apa yang ia kerjakan,sepertinya
mengajak otaknya bekerja keras” gumamku dalam hati.
Jam
menunjukkan pukul 21.25 WIB suasana malam sepi hanya bunyi sepeda yang berlalu
lalang di jalan raya depan rumah. Menjadi jadwal dan moment tersendiri bagi ayah menemani hanun tidur diselingi cerita
terbumbui gurauan ringan hinngga kadang-kadang terdengar suara tertawa keras
antara mereka. Kring...kring bunyi gawainya berbunyi dengan sigap ayah
mengambil dan sedikit menjauh dari tempat tidur.
Setelah
beberapa saat ayah kembali sambil mengambil jaket warna hijau yang tergantung di belakang pintu seraya
berkata “ malam ini ayah harus rapat di rumah pak bowo,sementara untuk malam
ini adik tidur dengan ibu!”
“ ayah
sibuk terus, pegang laptop tiap malam,pulang kerja sore,adik tidak sayang ayah!”
sergah hanun dengan menahan deraian air mata yang tidak bisa ia tutupi sambil menutup
wajahnya dengan bantal
“adik
sudah kelas tiga SD tidak boleh cengeng dan manja” aku mencoba menenangkan
gejolak amarah hanun sambil ku peluk dari belakang punggungnya.
“pokoknya
adik tidak sayang ayah, ayah jahaat!” kata-katanya menegaskan amarah yang
memuncak.
Tanpa menghiraukan hanun
yang ngomel sambil menangis Ayah pun bergegas mengambil sepeda yang terpakir di
garasi dan lekas menuju rumah pak bowo.
Dua
putriku mempunyai kedekatan tersendiri dengan ayah, semua yang menjadi
kebutuhan sekunder dan tersier bak proposal yang selalu di ACC tanpa coretan
revisi sedikitpun oleh ayah ,rayuan mereka berdua sering meluluhkan perasaan
ayah ketika mereka mengeluarkan jurus dahsyatnya, mendekati ayah sambil
bermanja dengan serta merta diutarakan semua keluh kesahnya.
Saat
kami pergi ke swalayan hanya membeli kebutuhan dapur tiap bulan dua putriku
tidak lepas dari gandengan ayah sambil memasukkan berbagai macam snack makanan
tanpa ada sotiran. Berbanding terbalik Ketika bersamaku pasti aku nasehati”
ambillah barang yang diperlukan saja!” merekapun berfikr dua kali untuk
membelinya.
Kadanga
aku sendiri dibuatnya cemburu melihat kedekatan mereka, timbul tanya dalam
hatiku “ apa aku terlalu over protective atau aku terlalu bersikap disiplin?”
hingga mereka berdua lebih dekat dengan ayah.
Bondowoso,15092020








Anak ayah ya....
ReplyDeleteNtar yg ketiga bikin anak bunda aja he he....mantap
ReplyDelete