Thursday, September 3, 2020

Preview memory di kursi putih abu

 


Pertama Mengenal masa abu-abu sebagai bentuk masa transisi dari seorang anak baru gede ( ABG) berproses  menjadi  remaja yang dewasa . Hari pertama masuk sebagai siswa menengah tingkat atas, bertemu dengan sosok – sosok yang some how  begitupun denganku yang masih culun, merasa minim rasa percaya diri dan sulit beradaptasi.

 Aku harus berhijrah ke kota sebelah untuk melanjutkan studi ke jenjang SMA sebagai salah satu upaya membentuk pendidikan karakter bekal hidup selanjutnya. Alternatif pertama aku harus bermukim di asrama guna menambah pengetahuanku di bidang agama, selebihnya sekolah umum diluar asrama.

Awal mula merasa sulit menerima lingkungan baru dengan berbagai macam karakteristik baik lingkungan, pribadi dan budaya ditambah sederet aturan asrama yang harus aku patuhi. Aku besar dan dididik di lingkungan mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Madura. Saat di bangku SMA mulailah kurasakan sulitnya berkomuniksi dengan teman karena mayoritas mereka menggunakan bahasa jawa gak apa apa lah,  anggap sebagai sebuah tantangan yang harus aku hadapi.  Untuk mengimbaginya kupergunakan Bahasa persatuan sebagai senjata ampuhku saat itu.

 

Sempat terbesit untuk pindah sekolah Karena keterbatasan komunikasi ditambah pembelajaran kitab kuning di asrama yang menggunakan bahasa jawa “ Aduuhhh komplit penderitaanku” gerutuku setiap hari disertai mengalirnya anak sungai ditepi pelupuk mata.“ Epak...emak...aku ingin pulaang!” jeritan yang sering ter tag dihatiku hampir selama empat bulan,  tetapi dengan berjalannya waktu dan  semangat empat puluh lima, dan rasa percaya diri tujuh puluh lima persen  kuberanikan bibirku sepatah dua kata berucap ” opo, teko endi, ra werro, mboten sumerrep, tumbas (Jawa) apa,darimana, tidak tahu, tidak mengerti, membeli"  itupun terdengar sedikit kaku kata teman sekamar.

 Untuk mengusir rasa bosan dan rasa ingin kabur dari asrama ( he..he.. maklum jiwa anak muda), aku coba mengobatinya dengan mengikuti ekstra kurikuler yang diadakan setiap hari minggu, setelah kewajiban rutin mingguan (ngepel, nguras kamar mandi,ngaji) di asrama selesai, aku berangkat ke sekolah belajar bersosialisasi dengan kakak kelas, kegiatan diekstra magement dan kepemimpinan yang aku ikuti mempunyai program diantaranya menulis beberapa artikel, cerpen yang tayang di mading setiap satu kali dalam satu minggu.

 

Beberapa organisasi informalpun juga aku ikuti yaitu IPNU IPPNU sebuah organisasi dibawah naungan NAHDHATUL ULAMA Yang bersifat keterpelajaran, kekeluargaan,kemasyarakatan dan keagamaan yang berhaluan islam ahlussunah waljamaah. Beberapa kajian dan halaqoh pernah kuikuti yang diadakan setiap dua bulan satu kali di sore hari dengan bimbingan kakak senior di kombes.

Tidak terasa tiga tahun berlau rasa yang awalnya mennggebu, memuncah tidak terbendung, berontak,ingin kabur, mutasi dan lain sebagainya sebagai bentuk ketidak sukaanku pada lingkungan baru, mencair secara perlahan - lahan mengikuti arus aliran sungai yang begitu landai nan apik. Berat rasanya berpisah dengan mereka yang telah banyak membantu proses pencarian jati diriku, Pertengahan Juni 2000 merekapun sibuk mengakses dan mencari informasi jenjang pendidikan berikutnya, terlupakanlah kalian semua hanya tinggal kenangan yang akan selalu ku ingat jika aku pernah belajar dan nyantri di Kaliwates Jember.


Salam Literasi


Bondowoso,09092020

 

 

 

 

2 comments: