Tuesday, September 8, 2020

Note Hari ini

 

Mencoba flashback  pada pertengahan maret kemarin yaitu  saat dimulainya  Lockdown untuk elemen pendidikan, merubah pola dan sistem pendidikan tatap muka  menjadi pembelajaran  Daring (Dalam Jaringan). Anak-anak dituntut belajar secara online dari rumah masing-masing dengan minimnya kalimat-kalimat penguatan yang biasanya terlontar di awal pembelajaran sebagai penggugah semangat belajar oleh guru.

Disisi lain kegiatan belajar online memberi manfaat untuk lebih membuka ruang dan waktu berkumpul dengan keluarga karena dibanding hari normal biasanya kami diburu jam dan waktu sebagai bentuk rasa disiplin dan tanggung jawab pada profesi yang kami ampuh.   Kedekatan keluarga semakin terpupuk misal dengan kegiatan, mendampingi ananda saat belajar, makan, sholat berjamaah, dan bisa bersepeda santai bersama saat pagi hari untuk melemaskan otot dan saraf.

Masa awal daring seperti biasanya si sulung setelah menyelesaikan tugas sekolah langsung nonton TV, masuk kamar tidur, pegang gawai, dan sholat kegiatan yang  terus berulang sepanjang hari tanpa adanya kegiatan yang bermanfaat.

Suatu hari emak yang biasa membantu pekerjaan rumah tidak masuk karena kerabatnya ada yang meninggal dunia, akhirnya semua pekerjaan di dapur aku yang handel. Jarum jam menunjukkan 05.50 WIB dengan sedikit tergesa-gesa aku akhiri aktifitas di dapur walupun banyak alat masak yang kotor berserakan antah berantah bak kapal pecah, “santai” gumam hatiku menenangkan diri sendiri.

Segera kupanggil anak-anak dan suami untuk cepat menikmati sarapan yang sudah berderet rapi di atas meja, sedangkan aku sendiri bersiap berangkat lebih awal karena ada jadwal piket. Pikiranku masih berkutat dengan keadaan dapur yang amburadul “bagaimana cara dapur bersih ketika aku datang” tanya dalam hatiku, Akhirnya muncul sebuah ide membuat catatan kecil yang kutempel di pintu menuju dapur supaya semua anggota keluarga dapat melihat ” Ibu minta tolong bak! Ada piring dan tempat kotor di dapur, tolong bersihkan!” besar harapanku pesan tersebut dilaksanakan oleh kedua putriku.

Setelah pekerjaan selesai segera aku rapikan kertas dan map yang berserakan dimeja kerja,sambil mengemudikan sepeda motor hatiku penu tanya ” kira-kira pesanku dikerjakan apa tidak?”. Dengan sedikit lelah tetapi  rasa penasaran membawa langkahku  menuju dapur untuk melihat kira-kira ada perubahan atau masih tetap dengan keadaan semula, mataku berbinar penuh gembira dan sedikit haru dapur tampak bersih dan rapi begitupun dengan ruang yang lain “Alhamdulillah, ternyata mereka mau melaksanakan sebuah tanggung jawab kecil” ucapku penug rasa syukur.

        Mengajak anak membantu melakukan pekerjaan rumah tangga memang tidak mudah, apalagi jika hal itu sampai mengganggu aktivitas bermainnya. Kecenderungannya, mereka akan ngambek dan malah tidak melakukan apa yang disuruh.

        Namun, sebagai orang tua kita harus mengajari anak-anak melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju miliknya sendiri, atau menyapu lantai. Efek positifnya akan dirasakan anak saat mereka dewasa. Hal itu akan mendidik pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab apa yang menjadi tuga dan kewajibannya.


 

Bondowoso, 22092020



 

2 comments:

  1. Anak saya ketika kecil belum sekolah pada rajin korah korah, beranjak besar he he abis makan langsung kabur piring kotor cuma d geser ke tempat kirah korah. Klo disuruh bilangnya kasian "Bebek" tak ada kerjanya.😂😂😂😂

    ReplyDelete
  2. Heheheeeeheee....kadang anak berubah ubah bund

    ReplyDelete