Mencoba flashback pada pertengahan maret kemarin yaitu saat dimulainya Lockdown untuk elemen pendidikan, merubah
pola dan sistem pendidikan tatap muka
menjadi pembelajaran Daring
(Dalam Jaringan). Anak-anak dituntut belajar secara online dari rumah masing-masing
dengan minimnya kalimat-kalimat penguatan yang biasanya terlontar di awal
pembelajaran sebagai penggugah semangat belajar oleh guru.
Disisi lain kegiatan belajar online
memberi manfaat untuk lebih membuka ruang dan waktu berkumpul dengan keluarga
karena dibanding hari normal biasanya kami diburu jam dan waktu sebagai bentuk
rasa disiplin dan tanggung jawab pada profesi yang kami ampuh. Kedekatan keluarga semakin terpupuk misal
dengan kegiatan, mendampingi ananda saat belajar, makan, sholat berjamaah, dan
bisa bersepeda santai bersama saat pagi hari untuk melemaskan otot dan saraf.
Masa awal daring seperti biasanya si
sulung setelah menyelesaikan tugas sekolah langsung nonton TV, masuk kamar
tidur, pegang gawai, dan sholat kegiatan yang
terus berulang sepanjang hari tanpa adanya kegiatan yang bermanfaat.
Suatu hari emak yang biasa membantu
pekerjaan rumah tidak masuk karena kerabatnya ada yang meninggal dunia,
akhirnya semua pekerjaan di dapur aku yang handel. Jarum jam menunjukkan 05.50
WIB dengan sedikit tergesa-gesa aku akhiri aktifitas di dapur walupun banyak
alat masak yang kotor berserakan antah berantah bak kapal pecah, “santai” gumam
hatiku menenangkan diri sendiri.
Segera kupanggil anak-anak dan suami
untuk cepat menikmati sarapan yang sudah berderet rapi di atas meja, sedangkan
aku sendiri bersiap berangkat lebih awal karena ada jadwal piket. Pikiranku
masih berkutat dengan keadaan dapur yang amburadul “bagaimana cara dapur bersih
ketika aku datang” tanya dalam hatiku, Akhirnya muncul sebuah ide membuat
catatan kecil yang kutempel di pintu menuju dapur supaya semua anggota keluarga
dapat melihat ” Ibu minta tolong bak! Ada piring dan tempat kotor di dapur, tolong
bersihkan!” besar harapanku pesan tersebut dilaksanakan oleh kedua
putriku.
Setelah pekerjaan selesai segera aku
rapikan kertas dan map yang berserakan dimeja kerja,sambil mengemudikan sepeda
motor hatiku penu tanya ” kira-kira pesanku dikerjakan apa tidak?”.
Dengan sedikit lelah tetapi rasa penasaran
membawa langkahku menuju dapur untuk
melihat kira-kira ada perubahan atau masih tetap dengan keadaan semula, mataku
berbinar penuh gembira dan sedikit haru dapur tampak bersih dan rapi begitupun
dengan ruang yang lain “Alhamdulillah, ternyata mereka mau melaksanakan sebuah
tanggung jawab kecil” ucapku penug rasa syukur.
Mengajak
anak membantu melakukan pekerjaan rumah tangga memang tidak mudah, apalagi
jika hal itu sampai mengganggu aktivitas bermainnya. Kecenderungannya, mereka
akan ngambek dan malah tidak melakukan apa yang disuruh.
Namun, sebagai orang tua
kita harus mengajari anak-anak melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci
piring, mencuci baju miliknya sendiri, atau menyapu lantai. Efek positifnya akan dirasakan
anak saat mereka dewasa. Hal itu akan mendidik pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab apa yang menjadi tuga dan kewajibannya.
Bondowoso, 22092020








Anak saya ketika kecil belum sekolah pada rajin korah korah, beranjak besar he he abis makan langsung kabur piring kotor cuma d geser ke tempat kirah korah. Klo disuruh bilangnya kasian "Bebek" tak ada kerjanya.😂😂😂😂
ReplyDeleteHeheheeeeheee....kadang anak berubah ubah bund
ReplyDelete