Thursday, August 20, 2020

Aku dan Uti Jamilah



Mengenalnya saja bagiku tidak mungkin karena intensitas bertemu jarang dan beliau sosok ibu yang pendiam, hanya orang tertentu saja yang kenal. Akupun tidak asing dengan wajah dan stylenya karena setiap ada moment penting di Kantor beliau selalu ada....ahh...mana mungkin aku kenal dengan ibu ini pikirku.

Pada pertengahan Tahun 2018 beberapa ASN di lingkungan Kementerian Kabupaten Bondowso mengikuti Diklat Pelatihan penilaian selama enam hari. Berjumpa lagi dengan beliau mungkin takdir, hari pertama aku duduk dibelakangnya tanpa menoleh ke arahku dan hanya bertukar cerita dengan teman disampingnya, Baterai Laptopku mulai menipis,kebetulan stopkontak berada didepannya dengan sedikit percaya diri aku membuka percakapan “ bun minta tolong ambilkan stopkontak!” pintaku, dengan sikap dinginnya ia menyerahkan stop kontak  padaku, “kayaknya ibu pendiam dan pilih-pilih dalam berteman  mungkin apa Jaim (bahasa anak sekarang)?” gerutu dalam hatiku.

Hari kedua dibentuklah beberapa kelompok kebetulan aku satu kelompok dengan ibu berbaju ungu yang sedari awal hanya sedikit bicara, akupun belum tahu nama teman-teman dalam kelompokku,  tugas kelompokpun selesai dengan menyantumkan nama anggota kelompok ,disitulah baru kutahu nama beliau adalah Dianna Ummijathie, teman-teman biasa memanggilnya bak din.

Lima hari terlewati dengan suasan Diklat beliau tetap dengan sikapnya yang dingin sedingin sapuan angin digurun pasir, saat Ishoma di Musholla beliau jarang bersama karena melaksanakan Ishoma di rumah kerabat yang dekat dengan kantor. Kegiatan Evaluasipun tiba dengan menggunakan aplikasi di gadget peserta langsung dapat mengerjakan dan mengirim hasil evaluasi saat itulah suasana sedikit hiruk pikuk saling bertanya kira-kira hasilnya berapa, kamipun saling support satu sama lain termasuk bak din. Kebetulan aku berangkat dan pulang mengikuti diklat bersama beberapa teman mengendarai mobil, ditengah perjalan kami pulang  sore hari pukul 17.30, bak din telpon ke seorang teman” re sudah pulang ta?” suara dari sebrang kudengar “ sudah hampir sampai rumah bak, ada apa?” tanya temanku penasaran sedikit penasaran “ tidak apa-apa jika masih dikantor,saya ingin gabung kerja kelompok!” suara bak din penuh harap, “maaf ya bak, alhamdulillah tugas selesai semua” temanku membalasnya.

Hari terakhirpun tiba semua kegiatan terlaksana sesuai jadwal dan hanya menunggu sertifikat dari Kanwil. Sudah menjadi tradisi kekinian selesai acara penutupan kami melakukan foto bersama-sama dengan gaya masing-masing. Ditengah gelak tawa anggota diklat bak din menyapa rombonganku “ setelah diklat ini kemana?” tanya bak din disertai senyum manisnya “ ah, tidak keman-mana bak, langsung pulang” sahut bu riski teman satu rombongan “ ayo! Mampir ke rumahku, dekat koq daerah nangkaan” beliau mengajak kami penuh dengan sapaan hangat, akhirnya kami menuju rumah beliau, setelah sampai dirumah beliau kami dipersilahkan duduk diruang tamu berukuran 3 x 4 m2 tergantung bebrapa lukisan dan foto keluarga bak din, senda gurau kami mengalir dengan hangat ditemani satu toples rengginang dan suguhan kopi hangat memberi semangat silaturrohmi  yang kuat diantara kami semua. Disini baru aku tahu bahwa bak din tidak sesinis yang aku sangka ( maaf bak din).

Jalinan silaturrohmipun terus berlanjut setelah bak din berkunjung kerumahku di Desa Blimbing Kecamatan Klabang, bertepatan dengan ada acara Kadhisa sebuah acara rutin untuk selamatan desa kemudian bersama teman-teman Diklat lainnya kami terus ke tempat wisata Beto so’on (STONEHENGE) di Kecamatan Cermee, canda dan tawapun menghiasi perjalanan kami. Seorang Dianna Ummijhatie bisa juga berkelekar dan bercanda dengan kami yang usianya jauh lebih muda darinya. Tidak sampai disitu ” Uti din ” begitu sapaan akrab kami padanya, berkunjung ke rumah teman-teman lainnya tanpa menolak suguhan yang dihidangkan walaupun perut penuh dengan berbagai macam makanan. Sungguh aku terlalu syu’udzon menyangka orang yang sebaik beliau.

Suatu pengalaman yang sangat berkesan semenjak kenal dengan Uti din saat beliau mengajakku ikut kegiatan Satu guru Satu Buku (SAGUSABU) program yang melatih guru untuk berani menulis. Awalnya aku sempat ragu, jika aku ikut SAGUSABU kira-kira tulisan apa yang hendak aku tulis, tetapi berkat motivasi beliau “menulis, menulis, menulis jangan hiraukan delete dan backspace” yang selalu terngiang ditelinga, mulailah jemari dan otakku membuat konektifitas yang tertuang dalam tulisan sederhana. Kegiatan menulis membuatku sedikit ketagihan untuk menulis setiap hari dan kutayangkan di GURU SIANA dan MEDIA GURU INDONESIA. Hingga aku sempatkan menulis goresan tentang pribadinya yang begitu antusias untuk menggerakkan gerakan literasi khususnya bagi guru di Bondowoso.

Bondowoso,20082020


5 comments:

  1. Eh ...uti jamilah...tiba eee uti jaim lah...mantul

    ReplyDelete
  2. Heheheee....awal yg dingin hingga berubah hangat

    ReplyDelete
  3. Awal perkenalan yang sangat mengesankan. Saya kok jadi ingin menulis tentang Bu Yuni juga ya? he he

    ReplyDelete
  4. Yang di tulis dan yang menulis sama2 luar biasa.,....sip sip sio

    ReplyDelete