Monday, August 10, 2020

Management emosi dari oma

 

Sudah jadi sesuatu yang lumrah jika seorang nenek selalu menuruti kemauan seorang cucu, adapun sesuatu yang tidak boleh  atau dilarang orang tua, biasanya seorang anak langsung menghampiri nenek untuk dapat mengabulkan permintaannya, mungkin rasa kasih sayangnya yang begitu tinggi pada cucu.

Ketika usia senja mulai datang sifat dan pola pikirnyapun mulai berubah ,egonya cukup tinggi, selalu ingin diperhatikan, butuh teman untuk bicara yang kadang membuat aku bosan karena yang diceritakan masa-masa lalunya yang begitu berkesan dalam hatinya dan indra pendengaranpun mulai berkurang hingga saat berbicara sedikit tinggi volume suaraku ( bukan bentakan ). Namun disisi lain yuyut begitu sayang  pada cucunya sehingga ketika sang cucu bepergian,saat malam belum pulang disitulah yuyutku menunggu dengan setia hingga tertidur diatas kursi, disinilah aku harus belajar rasa kasih sayang, protektif dan empati yang begitu besar .

Disaat kesehatan beliau mulai menurun dan membutuhkan obat-obatan perintahnya bagaikan titah seorang raja yang harus dan cepat dikerjakan disinilah aku menenangkan egonya yang meledak-ledak untuk dapat bersabar dan menunggu. Sikap yang perlu aku ambil pelajaran  bahwa tidak semua permintaannya langsung bisa dikerjakan. 

Panen padipun tiba beliau masih menerima sebagian hasil sawah, orang yang pertama kali dia panggil adalah cicitnya dengan suara lantangnya “ Dian, Wildan, Jihan, Hanun kemarilah cicitku!” mendengar panggilan si yuyut datanglah dan berhamburan sang cicit mendekati yuyut karena mereka tahu sebentar lagi ada pembagian angpou. Mereka mendapatkan bagian masing-masing sesuai tingkat perhatiannya pada yuyut, Dian seorang cicit pertama mendapat Seratus lima puluh ribu Rupiah, Wildan cicit nomer dua mendapat Duaratus lima puluh ribu Rupiah, cicit ketiga dan ke empat adalahJihan dan Hanun Mendapatkan bagian sama dengan Dian. Wildan salah satu cicit yang mempunyai sikap empati cukup tinggi dibanding ke tiga saudaranya. Ia begitu sigap memberi lilin di kamar yuyut saat PLN padam,  mengantarka makan,air minum serta makanan kecil ke kamarnya, maklumlah usia yuyut begitu sepuh kekuatan otot dan sendinya mulai lemah dan kropos hampir satu tahun yuyut hanya duduk dan terbaring diatas kasur, Disini aku belajar menghargai, mereward orang yang telah peduli pada kita tanpa mengabaikan yang lain. 

Usia tidak menyurutkan semangat untuk selalu beribadah, kadang disaat yuyut melantunkan doa lirih-lirih aku dengar semua anak, cucu dan cicitnya dia selipkan dalam setiap doanya, permintaannya cukup sederhana yaitu minta yang terbaik dan kelak menjadi manusia yang mulia didunia maupun akhiratnya, sambil tersenyum tak terasa air mataku jatuh, ya Allah hamba harus belajar banyak padanya untuk dapat memperbaiki sikap dan tingkah laku . Trimakasih yut ! Karena doamu aku bisa menjadi seperti ini.

Salam Literasi

6 comments:

  1. Semoga selalu sabar merawat yuyutnya.

    ReplyDelete
  2. Sehat selalu mbah yutt

    ReplyDelete
  3. Itulah mbah uyut...dalam ingatannya semua anak cucu cicit disebut...semoga iyut disehatkan...aamiin

    ReplyDelete
  4. Panjang umur,sehat selalu Aamiin buat mbah Yut

    ReplyDelete
  5. Panjang umur,sehat selalu Aamiin buat mbah Yut

    ReplyDelete